logo

TEACHING & TRAINING DEPARTMENT

tagline fgbmfi

  • Home
  • Contents
  • Artikel
  • Melakukan Kehendak Tuhan versus Kehendak Diri Sendiri (T&T Character Building Series)

Melakukan Kehendak Tuhan versus Kehendak Diri Sendiri (T&T Character Building Series)

Gods-will-v-my-will,....tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Setiap kali kita merayakan  hari Kebangkitan Tuhan Yesus, yang di Indonesia dikenal sebagai hari Paskah, kita senantiasa diingatkan tentang suatu pelajaran yang sangat penting yang Tuhan Yesus ajarkan menjelang saat penangkapannya yang kemudan diikuti dengan pengadilan, penyaliban, kematian dan kebangkitan-Nya.

Pelajaran itu adalah tentang doa yang Tuhan Yesus ajarkan di taman Getsemani menjelang penangkapan-Nya.  Ketiga Injil yaitu Matius, Markus dan Lukas mencatat akan peristiwa di taman Getsemani ini. (Matius 26:36-46 ; Markus 14:32-42 ; Lukas 22:39-46). Untuk penulisan ini kami mengambil dari nats utama di Injil Matius, dan menambahi serta melengkapinya dari yang lain.

Doa itu adalah yang Tuhan panjatkan kepada Bapa-Nya disurga yang berbunyi, “ Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku,  tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26: 39 ; Mark 14:36; Luk 22:42).

Doa itu Tuhan Yesus lakukan tiga kali (ayat 44).  Ada suatu pembelajaran rohani yang sangat penting disini. Ini adalah tentang sebuah pergumulan dan pertentangan antara melakukan kehendak Tuhan dan melakukan kehendak diri sendiri. Disepanjang abad, manusia akan terus bergumul dengan hal ini: Melakukan Kehendak Tuhan atau diri sendiri. Kekristenan yang sejati adalah jika orang-orang Kristen mau terus belajar tahu apa kehendak Tuhan  dan melakukan kehendak-Nya di dalam segenap aspek hidup-nya dan berkata “tidak” atas kehendak diri sendiri. Melakukan kehendak Tuhan berarti ketaatan total untuk melakukan semua perintah dan firman-Nya.  Kekristenan sejati hakekatnya adalah melakukan kehendak Tuhan. Melakukan kehendak Tuhan itu ketaatan total.  Bukan ketaatan setengah-setengah. Ini butuh waktu. Sepanjang hidup kita....

Melakukan kehendak Tuhan tidak segampang mengatakannya. Bahkan seseorang seperti Rasul Paulus terus berjuang untuk hal ini dan memperingatkan keras kita akan hal ini. Dia mengatakan di dalam Roma 7:19, 22-23 , “Sebab bukan apa yang kukehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak kukehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat. Sebab di dalam batin-ku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota tubuhku, aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budi-ku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh-ku.”

Rasul Paulus berkata di dalam Galatia 2:20 , “ ...bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kita membayangkan seorang pribadi seperti rasul Paulus yang menyerahkan seluruh hidup-nya untuk Tuhan Yesus saja masih bergelut dan berjuang untuk menang atas kehendak diri sendiri dan melakukan kehendak Tuhan sepenuhnya, lalu bagaimana dengan kita?

Dari awal generasi manusia, dari kitab Kejadian, kita telah belajar bahwa manusia telah gagal melakukan kehendak Tuhan dan cenderung melakukan kehendak dirinya sendiri. Kita belajar dari orang tua kita yang pertama di taman Eden. Adam dan Hawa. Mereka diperingatkan oleh Tuhan untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kejadian 2:16-17). Namun mereka melanggarnya. Mereka digerakkan oleh keinginan daging mereka untuk memuaskannya setelah mereka melihat betapa  buah pohon itu baik dan sedap kelihatannya (Kejadian 3:6). Kita mewarisi sifat dari kejatuhan mereka ini (the fallen nature).

Manusia cenderung untuk melakukan kehendaknya sendiri, setiap kali ada pencobaan atau godaan yang menarik mereka. Dalam banyak hal digerakkan oleh pandangan mata untuk pertama kali, lalu hawa nafsu daging dan kesombongan mewujudkannya menjadi dosa, melanggar apa yang menjadi kehendak Tuhan dan lebih melampiaskan kehendak diri sendiri.  Rasul Yohanes mengingatkan kita akan hal ini di dalm 1 Yohanes 2:16,” Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”

Seminggu yang lalu saya kembali dalam perjalanan dari Amerika untuk acara konvensi dan beberapa pelayanan di sana. Di pesawat dalam perjalanan pulang saya diingatkan kembali dengan ayat di atas ini. Perjalanan jauh sekitar 21 jam di pesawat membuat kita jenuh, sekedar duduk dan makan dan tidur. Pesawat menyajikan dengan berbagai hiburan film yang jumlahnya ratusan yang gampang tinggal di klik saja dari menu didepan layar tempat duduk kita, kita bisa pilih variasi yang sangat banyak (Amerika, Eropa, Asia dll). Keinginan mata, keinginan daging berkecamuk antara ingin nonton dan tidak.

Sempat awalnya nonton, tetapi akhirnya sisa perjalanan itu (dipotong jam tidur) selama lebih dari 17 jam saya tidak menonton lagi. Saya baca firman dan buku2 rohani. Terima kasih juga kepada istri saya yang mengingatkan pentingnya kita mengisi hidup kita dengan hal-hal yang bermanfaat, bukan hiburan film yang tidak menambah kedalaman apapun terhadap kerohanian kita. Kita juga terus akan dimurnikan kalau kita tidak memasukkan sesuatu yang bisa menjadi polusi bagi rohani kita ( 2 Korintus 7:1).

Didalam doa di taman Getsemani ini, Tuhan Yesus tengah mengajar kepada kita tentang bagaimana menang atas pergumulan melakukan kehendak Bapa versus kehendak diri sendiri. Sebagai 100 persen manusia, Tuhan Yesus, seperti manusia pada umumnya yang menghadapi beban yang sangat berat, ingin bahwa beban itu segera lepas. Dia harus meminum cawan yang berisi dosa seluruh dunia. Dengan minum cawan ini, Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita. (2 Korintus 5:21).  Ini adalah ujian yang paling hebat bagi Dia. Dia diminta oleh Bapa disurga, atas kedaulatan-Nya, untuk menjadi dosa karena kita.

Lukas menulis saat-saat pergumulan ini dengan lebih detil, dengan mengatakan, Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. (Luk. 22:43-44).

Di dalam ujian ini, Tuhan Yesus menang. Kuncinya adalah berkata “TIDAK” terhadap keinginan-Nya sendiri, dan HANYA mau menyenangkan Bapa di surga. Dia katakan, “ Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu-lah yang terjadi.”  Kalau ingin menyenangkan Bapa di surga kita harus melakukan kehendak-Nya, dan bukan kehendak diri sendiri.

Untuk mengalahkan keinginan diri sendiri selalu merupakan pergumulan yang tidak mudah. Kita seringkali diminta untuk menyerahkan hal-hal yang enak dan menyenangkan. Pergaulan, hobby, hiburan dan lain-lain perbuatan kedagingan. Sesuatu yang melebihi kecintaan kita kepada Tuhan, patut kita potong& tinggalkan. Perlu sekali kita membuat daftar hal-hal yang kita patut potong dan tinggalkan, supya hidup kita lebih berkenan kepada DIA. Tuhan kita adalah Tuhan yang pecemburu, namanya adalah Cemburuan ( Keluaran 34:14). DIA patut mendapat segala yang terbaik dari kita, karena Dia telah memberikan yang terbaik dari hidup-Nya untuk kita semua, agar kita tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal (Yohanes 3:16)...Haleluia...

Tuhan Yesus sangat tahu akan pergumulan yang dihadapi oleh murid-murid-Nya yang terdekat, Yohanes, Petrus dan Yakobus. Juga pergumulan yang dihadapi setiap dari kita, semua orang yang memanggil DIA sebagai Tuhan.  Tuhan berkata, Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan, roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (ayat 41). Kecenderungan daging adalah bertentangan dengan kehendak roh. Disini Tuhan memberikan kita kunci kearah kemenangan akan kedagingan kita: BERJAGA-JAGA dan BERDOA.

Apakah itu BERJAGA-JAGA? Konsep berjaga-jaga mudah dimengerti dalam konteks sebuah rumah. Pemilik rumah yang tidak ingin rumahnya dimasuki penjahat, dia akan melakukan langkah-langkah persiapan yang matang, termasuk keamanan yang sangat baik. Mungkin dengan sistem alarm serta mengunci seluruh pintu rumah dan pagar. Dia menguasai sepenuhnya situasi dan keadaan rumahnya! Hal yang sama di dalam setiap orang. Manusia pada dasarnya adalah mahluk rohani yang punya jiwa dan tinggal dalam tubuh jasmani.

Amsal 16:32 b mengatakan, “ orang yang menguasai dirinya,  melebihi orang yang merebut kota.” Menguasai dirinya adalah jika roh memegang kendali atas jiwa (intelek, perasaan, emosi) dan tubuh. Kemudian roh manusia harus tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Roh manusia harus kuat dan memerintah. Roh manusia akan kuat kalau dilatih dan diberi makan. Sama seperti tubuh kuat kalau diberi makan, maka roh manusia akan kuat kalau diberi makan firman. “ Roh-lah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan2 yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” (Yohanes 6:63).

Firman Tuhan adalah roh. Itu akan menguatkan manusia roh atau batiniah kita. Kekuatan manusia roh kita akan berjalan pararel dengan konsumsi firman Tuhan di dalam hidup kita....Haleluia. 

Roh kita harus tunduk kepada pimpinan Roh Kudus, maka daging tidak berkuasa atas hidup kita.  Hal ini jelas dinyatakan oleh rasul Paulus di dalam Galatia 5:16-17, “ Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”

Karena menyadari bahwa daging itu lemah, dan setiap kali manusia akan gagal kalau tanpa pimpinan Roh Kudus, maka Tuhan Yesus melimpahkan Roh Kudus-Nya kepada kita ketika IA pergi ke surga. “ Adalah lebih berguna bagi kamu, jika AKU pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, ...Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” (Yohanes 16: 7,13).

Juga dikatakan-Nya,” Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, ...,Ia akan menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu..”(Yohanes 16:16,17b). Dia(Roh Kudus) sudah di dalam kita. Berjaga-jaga adalah jika roh kita menguasai jiwa dan tubuh serta roh kita tunduk dalam pimpinan Roh Kudus..

BERDOA. Tuhan Yesus memberikan contoh yang terbaik. Di tengah situasi yang sangat tertekan dan sangat sedih, IA malah sunguh-sungguh berdoa (Lukas 22:44). Tiga kali juga Tuhan berdoa. Dan Dia kuat. Segar kembali setelah berdoa. Berdoa akan menguatkan otot-otot rohani kita. Berdoa juga akan membuat roh kita lebih peka kepada pimpinan Roh Kudus. Berdoa akan membuat kita lebih peka terhadap kehendak Allah untuk setiap aspek pergumulan kehidupan kita.

Rasul Yakobus memberikan kepada kita pelajaran tentang Doa. Di dalam Yakobus 4:2-3, “...kamu tidak memperoleh apa2, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa2, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” Tidak berdoa tidak menerima apa2. Salah berdoa, yakni memuaskan hawa nafsu juga tidak akan menerima apa2. Di sini kita mengerti bahwa doa itu sangat penting, namun terwujudnya permintaan doa, disamping dibutuhkan kesungguhan (Yakobus 5: 17-18), juga sikap orang-nya, harus benar (Yak.5:16), dan yang terpenting kehendak Tuhan yang terjadi...

Pesan yang sama disampaikan oleh Tuhan Yesus di sepanjang tiga setengah tahun pelayanan-Nya, Dia senantiasa berkata, “ Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34). Tuhan tidak peduli apa yang dikatakan oleh orang-orang, karena DIA tidak mencari perkenanan manusia, yang Dia cari adalah senantiasa perkenanan Bapa-Nya.  Kehendak Bapa-Nya adalah bahwa Dia harus memikul salib, dan mati dikayu salib untuk kemudia bangkit dihari ketiga menjadi pemenang terbesar sepanjang sejarah manusia.

Ketika Dia tergantung dikayu salib, banyak orang mencemooh, menghina. Dia tidak peduli anggapapn orang-orang. Kematian-Nya dikayu salib bagi sebagian besarorang dianggap sebagai kegagalan. Apalagi, salah satu dari dua belas rasul utama yaitu Yudas, mengkianati Dia. Banyak murid-murid yang lain meninggalkan Dia juga. (Yohanes 6:66). Apa yang dianggap gagal oleh dunia,  bagi Bapa-Nya disurga adalah sebuah sukses yang sejati. Dia telah mengalahkan seorang penghulu malaikat yang luar biasa, dan malaikat-malaikat yang telah jatuh ke dalam dosa. Ia mengalahkan suatu sifat lama yang tidak pernah dapat manusia kuasai. Dia telah membayar hutang dosa manusia.

Sukses diukur dengan satu hal – apakah kita sudah menyelesaikan kehendak Tuhan bagi hidup kita atau belum. Kalau kita sudah melakukan kehendak Tuhan, hasil kerja kita akan tinggal tetap dan tidak musnah terbakar api. Ingat apa yang dikatakan oleh rasul Yohanes, bahwa dunia ini akan musnah, hanya ada satu yang tertiggal dan akan hidup selama-lamanya yaitu orang-orang yang melakukan kehendak Allah. “ Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:17)

Melakukan kehendak Tuhan haruslah terus mewarnai kehidupan kita serta target utama kita supaya terus BERKENAN dimata-Nya,  di akhir jaman ini. Waktu kedatangan Tuhan yang kedua sudah semakin dekat. Dari taman Getsemani kita belajar dari Tuhan kita. Mari kita terus BERJAGA-JAGA dan BERDOA.... Selamat merayakan hari Kebangkitan Tuhan Yesus..

Vincent M Widjaja

Director T&T NB

  • best energy
  • bra q
  • img002
  • chemindo